Nasib Para Pelajar dan Para Pendidik Di Bawah Naungan Nadiem Makarim

Nasib Para Pelajar dan Para Pendidik Di Bawah Naungan Nadiem Makarim

Oleh : Nur Afifah, Pemerhati Generasi Surabaya

Nadiem Makarim
Usai pelantikan presiden dan wakil presiden 2019-2024, kita dikejutkan dengan terpillihnya seorang menteri pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang berlatar belakang seorang pengusaha. Hal ini sudah yang ke sekian kalinya seorang pejabat Indonesia bermula dari seorang pebisnis.
Suara.com melansir bahwa sistem pendidikan Indonesia merupakan terbesar ke empat di dunia tetapi kualitasnya merupakan salah satu yang terburuk. Laporan PISA terbaru menunjukkan Indonesia masuk ke dalam jajaran 10 negara dengan performa pendidikan terburuk. Kualitas pendidikan di Indonesia masih lebih buruk dibandingkan Mexico, Kolombia, dan Thailand.
Penelitian yang dilakukan oleh organisani pendidikan terkemuka di Universitas Cambridge Internasional-bagian dari Universitas Cambridge di Inggris menemukan pelajar Indonesia menggunakan teknologi di dalam kelas lebih banyak dari negara lain, sering mengalahkan negara yang maju.
Pelajar Indonesia adalah yang tertinggi secara global dalam penggunaan ruang komputer (40%). Mereka menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia dalam penggunaan komputer desktop (54%), setelah Amerika Serikat. Disamping itu, lebih dari dua pertiga siswa Indonesia (67%) menggunakan ponsel pintar di kelas, dan bahkan lebih banyak menggunakannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah (81%). (https://www.bbc.com).
Ketika kita melihat kembali bagaimana kondisi kualitas keilmuan, sikap dan moral seorang pelajar yang getol dengan teknologi yang digunakan tidak untuk media sosial saja namun juga dalam urusan pendidikan di negara kita, ternyata sungguh ironis. Bukan malah menyelesaikan masalah dalam meningkatkan kualitas ilmu, sikap dan moral namun justru semakin maraknya kasus-kasus yang menunjukkan bahwa kualitas sistem pendidikan yang diemban oleh pelajar dan tenaga pendidik saat ini sangatlah buruk.
Apalagi harapan dari seorang pemimpin negara kita ketika menunjuk seorang pengusaha (baca: Pendiri Ojek Online Go-Jek) sebagai pengatur segala urusan terkait pendidikan hanyalah dikarenakan teknologi. “Kita diberi peluang setelah ada yang namanya teknologi, yang namanya aplikasi sistem yang bisa membuat loncatan sehingga yang dulu dirasa tidak mungkin sekarang mungkin” Ungkapnya. (https://m.detik.com)
Bagaimana mungkin kualitas, sikap dan moral seorang pelajar dan pendidik bisa meningkat di saat alasan memilih seorang menteri pendidikan hanya karena teknologi aplikasi GoJek? Padahal urusan pendidikan adalah urusan yang rumit mulai dari hulu hingga hilir. Mampukah teknologi mengatasi masalah terkait pelajar yang hamil di luar nikah, pelajar yang candu gadget, pelajar pengguna narkoba dan kebobrokan kualitas pelajar yang lainnya?
Sungguh yang bisa menyelesaikan berbagai masalah saat ini adalah sebuah sistem terpadu (integrated system) yang mengatur segala urusan secara komprehensif mulai dari aktifitas bangun tidur hingga bangun negara, termasuk di dalamnya pendidikan. Sistem pendidikan yang telah teruji dan mampu merubah kegelapan Eropa khususnya Spanyol, menjadi terang benderang di abad 8 M hingga 15 M. Dari model pendidikan inilah lahir tokoh ilmuwan dunia di bidang ilmu pengetahuan, filsafat, arsitektur dan kedokteran.  Mereka lahir dalam sebuah sistem pendidikan yang berbasis Islam.
Sistem pendidikan islam yang universal itu mengajarkan manusia agar memahami tujuan hidup  di dunia. Allah SWT menjelaskan di dalam surah Adz Dzariyat : 56 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka ber ibadah kepada-Ku”. Sehingga jiwa yang dihasilkan oleh Islam adalah jiwa-jiwa yang berkarakter dengan visi besar, berkualitas dan unggul. Bagaimana tidak, ketika kita menerapkan sistem sang pencipta, maka kita akan menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia dengan konsep, perilaku dan jati diri keislaman yang jelas bukan apatis, cuek, hedonis bahkan liberal.
Sistem pendidikan Islam jauh dalam benak kita yang belum pernah merasakan hidup dalam kepemimpinan Islam. Output sistem pendidikan saat ini belum mampu melahirkan tokoh-tokoh besar sebagaimana yang pernah dicetak oleh Spanyol saat berada dalam genggaman Islam dahulu. Pola dan sistem pendidikan sekuler yang diaplikasikan bukan saja di Indonesia ini justeru melahirkan generasi yang kian memburuk dari segi perilaku, ilmu dan peradaban.
Kalau saja para pemangku kekuasaan di negeri ini berani mengambil langkah dan kebijakan revolusioner untuk menerapkan model dan sistem pendidikan yang telah terbukti mampu menghasilkan tokoh sekaliber Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail,  Ibnu Rusyd, Al-Jabbar, dan Az-Zahrawi, maka pendidikan akan menghasilkan bukan saja generasi tangguh dalam ilmu pengetahuan  tetapi juga memiliki kualitas perilaku yang santun.
Sistem pendidikan Islam melahirkan generasi yang secara individu berkualitas ‘Ulul Albab’ dan secara generasi berkualitas ‘Khoiru Ummah’. Generasi yang dihasilkan dari proses pendidikan Islam yang berkualitas ini akan mampu memimpin bangsa menjadi bangsa besar, kuat dan terdepan, bahkan akan menghantarkan bangsa menjadi pemimpin peradaban dan perkembangan teknologi di dunia.
Hal tersebut bisa terjadi karena Islam sangat mementingkan ilmu pengetahuan. Dalam Islam ilmu pengetahuan adalah pondasi dalam membangun peradaban. Hal ini ditandai dengan aktivitas membaca sebagai pintu utama membuka khazanah ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah. Kemudian pada saat Rasulullah menjadi pemimpin negara (Khalifah) di Madinah beliau memberantas buta huruf dengan meminta tawanan perang Badar untuk mengajarkan membaca dan menulis pada penduduk Madinah.
Selanjutnya, kita menunggu  bagaimana seorang pengusaha Nadiem Makariem merevolusi sistem pendidikan yang buruk ini, apakah ia akan memperbaiki atau justru keadaan kaum terpelajar dan tenaga pendidik semakin parah dalam lingkaran kurikulum dan sistem pendidikan sekuler dan liberal? Wallahu a’lam bishowab.[]

Generasi Terpapar Candu Gadget, Bagaimana cara mengatasinya ?


Generasi Terpapar Candu Gadget, Bagaimana cara mengatasinya ?

Nur Afifah, Pemerhati Generasi Surabaya

            Pada zaman serba teknologi seperti sekarang ini, gadget adalah barang yang tidak dapat terpisahkan. Masyarakat mampu menyerap informasi, berkomunikasi, dan bersenang-senang melalui fitur-fitur canggih di dalam gadget.

            Sayangnya ada yang sangat berlebihan dalam menggunakan gadget kali ini. Itupun yang terpapar candu gadget adalah anak-anak dan remaja.

            “Dalam sehari, sejak Agustus 2019, ada dua sampai tiga kasus baru anak karena gangguan belajar. Setelah digali, penyebabnya ternyata kecanduan gadget. Mereka selalu mencari ponsel dan tidak menyelesaikan tugas, yang berimbas turunnya nilai pelajaran,” Ungkap Yunias di temui di RSUD Dr Soetomo Surabaya (dilansir di surya.co.id)

            Sebelum masuk ke area candu, interaksi anak-anak atau remaja terhadap gadget ini harus di perhatikan, apakah memang sudah dibatasi atau bahkan di biarkan oleh sang pendidik generasi agar anak-anak atau remaja tersebut tidak mengganggu kehidupan orang tua? Dari berbagai kasus kebanyakan  fakta menunjukkan kecanduan gadget ini dikarenakan orang tua yang menginginkan agar sang anak senang (versi orang tua) dan kedua orang tua tidak masuk ke area kepribadian anak. Padahal kenyataannya orang tua harus bisa masuk kedalam pribadi anak, karena hasil karakter anak adalah hasil dari didikan kepribadian yang di ajarkan oleh anak. Bagaimana mungkin orang tua bisa ter lock dari gadget anak?

            Seyogyanya seorang pemuda adalah generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat, kader agama dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikkan dengan perubahan, betapa tidak peran pemuda dalam membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, dan peran pemuda sebagai simbol perjuangan. Dan bagaimana mungkin gelar yang seharusnya disandang oleh sang pemuda generasi ini terpapar candu gadget?

            Negara bisa mati ketika mayoritas generasi sudah memiliki sifat cuek dikarenakan terpapar oleh candu gadget, generasi yang mementingkan diri sendiri dengan keasyikan dalam permainan dunia maya yang dihadirkan oleh fitur-fitur menarik didalam gadget.

            Lantas, bagaimana sikap kita sebagai pemerhati generasi? Ya, sebagai pemerhati generasi khususnya juga para orang tua adalah benar-benar mamperhatikan tanggung jawab perihal pendidikan. Misalnya, bertanggung jawab dalam pendidikan iman, bertanggung jawab dalam pendidikan moral, bertanggung jawab dalam pendidikan fisik, bertanggung jawab dalam pendidikan akal, bertanggung jawab dalam pendidikan kejiwaan, bertanggung jawab dalam pendidikan sosial dan bertanggung jawab dalam pendidikan seks.

            Bertanggung jawab akan perihal tersebut bermaksud mengikatkan anak terhadap dasar-dasar keimanan, rukun Islam dan dasar-dasar syariat semenjak anak sudah mengerti dan memahami. Keseluruhan dari pendidikan yang didasari oleh aqidah Islam ini berlandaskan pada wasiat Rasulullah SAW dan petunjuknya menuntun anak dan memahami dasar-dasar iman, rukun-rukun Islam, dan hukum-hukum syariat.

            Islam mengajarkan berbagai aturan dalam semua lini kehidupan, salah satunya adalah perihal pendidikan. Saya paparkan cara Islam dalam mengajarkan pendidikan anak adalah:
1. Membuka kehidupan anak dengan kalimat tauhid Laa Ilaha Ilallah
            Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Bukakanlah untuk anak-anak kalian pertama kalinya dengan kalimat Laa Ilaha Ilallah (Tiada sesembahan yang hak kecuali Allah)

2. Mengajarkannya Masalah Halal dan Haram setelah Ia Berakal
            Ajaran Islam ini adalah agar seorang anak ketika membuka kedua mata dan tumbuh besar, ia telah mengetahui perintah-perintah Allah sehingga ia bersegera melaksanakannya. Ia juga mengenal larangan-larangan Allah sehingga bersegera menjahuinya.

3. Memerintahkannya untuk beribadah saat umurnya tujuh tahun
            Rasulullah SAW bersabda “Perintahkan anak-anak kamu melaksanakan sholat pada usia tujuh tahun, dan disaat mereka telah berusia sepuluh tahun pukullah mereka jika tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah tempat tidurnya.”

            Faedah perintah ini adalah agar anak mau mempelajari hukum-hukum Ibadah ini sejak tumbuh dewasanya serta akan terbiasa melaksanakan dan menegakkannya. Selain itu, ia akan terdidik untuk selalu taat kepada Allah, melaksanakan hak-Nya, bersyuur kepada-Nya, berpegang teguh kepada-Nya bersandar kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya. Disamping itu, agar dengan ibadah ini anak-anak dapat terjaga kesucian rohaninya, kesehatan fisiknya, kebaikan akhlaknya, serta lurusnya perkataan dan perbuatannya.

4. Mendidiknya untuk Cinta kepada Nabi, Keluarganya, dan Cinta Membaca Al-Qur’an
            Alangkah indahnya syarir berikut:

Pemuda-pemuda akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh bapaknya
Pemuda-pemuda tidak akan tumbuh dengan akalnya, tetapi dengan agamanya
Maka, dekatkanlah ia dengan agama.

            Inilah pentingnya fitrah dan pengaruhnya. Dapat kita ketahui bahwa anak yang tumbuh didalam keluarga yang menyimpang, belajar di lingkungan sesat, dan berkumpul dengan kelompok rusak, ia akan menyerap kerusakan tersebut. Ia akan terdidik dengan akhlak yang buruk dan tertuntun dengan pendidikan yang rusak dan fatal.

            Dan dari sini penulis mengingatkan kepada kita semua agar kita semakin peduli dengan pendidikan generasi. Sangat indah dan menyejukkan saat kita menggunakan standart Islam dalam menjalankan pendidikan untuk berhasilnya kualitas sang generasi. Ketika generasi saat ini memiliki motivasi yang kuat, mereka akan memiliki energi yang besar untuk belajar. Mereka akan tergerak untuk berusaha sengan sungguh-sungguh melakukan apa yang menurutnya baik. Semakin kuat motivasinya, semakin kuat usahanya.  


PHK Mengintai, Buruh Menanti Kepastian: Saatnya Negara Menjamin Kesejahteraan Rakyat | Pena Sang Demolisher

PHK Mengintai, Buruh Menanti Kepastian: Saatnya Negara Menjamin Kesejahteraan Rakyat Oleh: Afifah Demolisher Kabar ancaman pemutusan hubunga...