PHK Mengintai, Buruh Menanti Kepastian: Saatnya Negara Menjamin Kesejahteraan Rakyat
Oleh: Afifah Demolisher
Kabar ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan buruh di Jawa Timur kembali mengusik rasa aman masyarakat. Dua perusahaan komponen otomotif yang beroperasi di Pasuruan dan Mojokerto dikabarkan berencana memindahkan sebagian produksinya ke Vietnam. Di saat yang sama, ribuan pekerja PT Pakerin juga terancam kehilangan mata pencaharian akibat persoalan modal kerja yang tersangkut di bank yang dilikuidasi.
Bagi para buruh, kondisi ini bukan sekadar angka statistik ekonomi. Di balik setiap ancaman PHK terdapat keluarga yang harus diberi makan, anak-anak yang membutuhkan biaya pendidikan, serta kebutuhan hidup yang terus meningkat. Ketidakjelasan nasib pekerjaan sering kali lebih menyesakkan daripada PHK itu sendiri. Ketika status pekerjaan menggantung tanpa kepastian, para pekerja hidup dalam ketakutan setiap hari, bertanya-tanya apakah bulan depan mereka masih memiliki penghasilan atau tidak.
Fenomena ini menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan keuntungan perusahaan sebagai pertimbangan utama. Ketika suatu negara dianggap lebih menguntungkan, pabrik dapat dipindahkan dengan mudah. Buruh yang selama bertahun-tahun mengabdi akhirnya hanya menjadi korban dari keputusan bisnis global.
Dalam paradigma kapitalisme, negara sering kali hanya bertindak sebagai regulator yang berupaya menyeimbangkan kepentingan investor dan pekerja. Akibatnya, jaminan kesejahteraan rakyat sangat bergantung pada kondisi pasar, investasi, dan keuntungan perusahaan. Ketika perusahaan mengalami kesulitan atau menemukan lokasi yang lebih menguntungkan, pekerja berada pada posisi yang paling rentan.
Berbeda dengan Islam. Islam memandang negara sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sistem Islam, negara tidak sekadar menjadi penonton ketika rakyat kehilangan pekerjaan. Negara wajib memastikan kebutuhan dasar setiap individu terpenuhi, baik pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan maupun keamanan.
Sejarah Khulafaur Rasyidin memberikan contoh nyata bagaimana negara hadir menjamin kesejahteraan rakyat. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra., Baitul Mal dikelola untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Umar bahkan menetapkan tunjangan bagi bayi yang baru lahir, para lansia, fakir miskin, hingga mereka yang tidak mampu bekerja.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Umar menemukan seorang Yahudi tua yang meminta-minta karena tidak mampu lagi bekerja dan harus membayar jizyah. Umar kemudian membebaskannya dari kewajiban tersebut dan memerintahkan agar kebutuhan hidupnya ditanggung oleh Baitul Mal. Umar berkata, "Kita tidak adil jika mengambil jizyah darinya saat muda lalu menelantarkannya ketika tua."
Kisah ini menunjukkan bahwa jaminan kesejahteraan dalam Islam tidak bergantung pada produktivitas seseorang semata. Negara bertanggung jawab memastikan setiap warga dapat hidup layak, bahkan ketika mereka sudah tidak mampu bekerja.
Selain itu, Islam juga memiliki sistem ekonomi yang mendorong terciptanya lapangan kerja yang luas melalui pengelolaan sumber daya alam oleh negara, pengembangan sektor riil, serta larangan praktik-praktik ekonomi yang merusak seperti riba dan monopoli. Dengan demikian, negara memiliki sumber pemasukan yang kuat untuk menjalankan fungsi pelayanan dan perlindungan terhadap rakyat.
Ancaman PHK yang terus berulang seharusnya menjadi bahan renungan. Persoalannya bukan sekadar bagaimana mendapatkan pesangon yang lebih besar, tetapi bagaimana membangun sistem yang mampu menjamin kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan. Selama orientasi ekonomi hanya bertumpu pada keuntungan korporasi, nasib buruh akan terus berada dalam ketidakpastian.
Islam menawarkan paradigma berbeda: negara hadir sebagai pelindung, bukan sekadar pengatur. Negara bertanggung jawab memastikan setiap warga mendapatkan kehidupan yang layak dan tidak dibiarkan menghadapi ketakutan ekonomi sendirian.
Sudah saatnya umat kembali menengok solusi yang berasal dari syariat Islam kaffah, yang pernah terbukti menghadirkan kesejahteraan dan rasa aman bagi seluruh rakyat tanpa memandang agama maupun status sosialnya.
Sumber : https://www.detik.com/jabar/bisnis/d-8541990/badai-phk-mengintai-2-raksasa-otomotif-jepang-berencana-pindah-dari-ri
#PHK #BuruhIndonesia #JawaTimur #KesejahteraanBuruh #IslamKaffah #EkonomiIslam #SyariahIslam #Khilafah #DakwahIslam #OpiniIslam #AfifahDemolisher #BaitulMal #KhulafaurRasyidin #UmarBinKhaththab #IslamSolusiKehidupan










