Surabaya Mengeluh, Rakyat Menjerit: Sampai Kapan Beban Hidup Terus Bertambah? | Pena Sang Demolisher

Surabaya Mengeluh, Rakyat Menjerit: Sampai Kapan Beban Hidup Terus Bertambah?



Oleh: Afifah Demolisher 


Di tengah hiruk pikuk Kota Surabaya sebagai pusat ekonomi Jawa Timur, suara keluhan rakyat semakin sulit diabaikan. Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terjadi beberapa hari terakhir bukan sekadar perubahan angka di papan SPBU. Ia telah menjelma menjadi beban baru yang menghimpit kehidupan masyarakat.


Ketika harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dampaknya tidak berhenti pada para pengguna kendaraan pribadi. Kenaikan biaya transportasi akan merambat ke berbagai sektor. Distribusi barang menjadi lebih mahal, biaya operasional usaha meningkat, dan pada akhirnya harga kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik.


Bagi sebagian kalangan berpenghasilan tinggi, kenaikan ini mungkin hanya dianggap penyesuaian. Namun bagi jutaan rakyat yang penghasilannya tidak ikut naik, setiap tambahan pengeluaran berarti pengurangan kebutuhan lain yang harus dikorbankan. Ada yang mengurangi belanja dapur, menunda biaya pendidikan, bahkan mengurangi kebutuhan kesehatan demi bertahan hidup.


Yang membuat keadaan semakin berat adalah kenyataan bahwa tekanan ekonomi tidak datang sendirian. Dalam beberapa waktu terakhir masyarakat juga dihadapkan pada gelombang PHK, menurunnya daya beli, sulitnya lapangan kerja, dan ketidakpastian ekonomi. Akibatnya, rakyat merasakan tekanan berlapis yang menimbulkan kecemasan dan frustrasi.


Islam memandang bahwa negara tidak boleh sekadar menjadi regulator yang membiarkan mekanisme pasar menentukan nasib rakyat. Negara adalah pelayan yang bertanggung jawab menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Rasulullah ï·º bersabda:


"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya."


(HR Bukhari dan Muslim)


Dalam pandangan Islam, energi termasuk sumber daya strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena itu pengelolaannya harus ditujukan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan rakyat, bukan semata-mata mengikuti mekanisme keuntungan komersial.


Indonesia sesungguhnya adalah negeri yang kaya. Sumber daya alam melimpah, cadangan energi besar, lahan luas, dan penduduk produktif. Namun kekayaan tersebut belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Yang sering terlihat justru paradoks: negeri kaya sumber daya, tetapi rakyatnya harus berjuang menghadapi kenaikan harga demi kenaikan harga.


Kondisi ini seharusnya menjadi momentum muhasabah bersama. Persoalannya bukan sekadar naik atau turunnya harga BBM. Yang lebih mendasar adalah bagaimana arah pengelolaan ekonomi negara. Apakah seluruh kebijakan benar-benar berorientasi pada kesejahteraan rakyat, ataukah rakyat justru terus menjadi pihak yang menanggung konsekuensi setiap krisis?


Kaum muslimin Surabaya dan seluruh Indonesia perlu menyadari bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah individu, tetapi juga menawarkan tata kelola kehidupan yang menjamin keadilan dan kesejahteraan. Ketika kebijakan ekonomi berulang kali menghadirkan kesulitan bagi masyarakat, maka sudah saatnya umat kembali mengkaji solusi yang berasal dari syariat Allah secara menyeluruh.


Rakyat tidak membutuhkan janji-janji baru. Rakyat membutuhkan sistem yang benar-benar berpihak kepada mereka. Sebab kesejahteraan bukanlah kemewahan yang harus diperjuangkan sendirian oleh rakyat, melainkan hak yang wajib dijamin oleh negara.


Dan selama persoalan mendasar belum diselesaikan, keluhan rakyat akan terus terdengar dari rumah-rumah sederhana, dari pasar-pasar tradisional, dari para pekerja, pedagang, sopir, hingga ibu rumah tangga yang setiap hari berjuang agar dapur tetap mengepul.


Surabaya hari ini sedang mengeluh. Pertanyaannya, siapa yang benar-benar mendengar jeritan rakyat?


Sumber Berita : https://www.kompas.id/artikel/warga-surabaya-mulai-tertekan-situasi-ekonomi


#Surabaya #JawaTimur #HargaBBM #PertamaxNaik #EkonomiRakyat #DayaBeliTurun #KesejahteraanRakyat #OpiniPublik #MuslimPeduliUmat #DakwahIslam #IslamRahmatanLilAlamin #KebangkitanIslam #SyariahUntukKemaslahatan #IndonesiaBerkeadilan #SuaraRakyat

No comments:

Post a Comment

PHK Mengintai, Buruh Menanti Kepastian: Saatnya Negara Menjamin Kesejahteraan Rakyat | Pena Sang Demolisher

PHK Mengintai, Buruh Menanti Kepastian: Saatnya Negara Menjamin Kesejahteraan Rakyat Oleh: Afifah Demolisher Kabar ancaman pemutusan hubunga...