Rupiah Terancam Rp25.000 per Dolar? Alarm yang Tak Boleh Diabaikan
Beberapa hari terakhir publik dikejutkan oleh pernyataan ekonom senior Ferry Latuhihin yang memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp25.000 per dolar AS. Menurutnya, pelemahan rupiah bukan hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga disebabkan berbagai persoalan struktural dan kebijakan ekonomi dalam negeri.
Tentu, prediksi bukanlah kepastian. Bahkan ada ekonom lain yang menilai rupiah masih memiliki peluang menguat apabila faktor-faktor pendukung seperti kebijakan moneter dan arus investasi membaik.
Namun, yang perlu menjadi perhatian bukan semata angka Rp25.000 itu sendiri. Yang lebih penting adalah kenyataan bahwa ekonomi rakyat sedang menghadapi tekanan berat. Gelombang PHK, daya beli yang melemah, harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, serta ketergantungan terhadap impor membuat masyarakat semakin rentan terhadap gejolak kurs. Jika rupiah melemah tajam, maka harga barang impor, bahan baku industri, hingga kebutuhan pangan berpotensi ikut melonjak.
Pertanyaannya, mengapa persoalan ini terus berulang?
Dalam pandangan Islam, akar masalah ekonomi bukan sekadar salah hitung anggaran atau lemahnya nilai tukar. Persoalan utamanya adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama, membuka ruang dominasi oligarki, membiarkan sumber daya alam strategis dikuasai korporasi, serta menjadikan utang dan sektor keuangan berbasis riba sebagai penopang ekonomi.
Akibatnya, negara menjadi rentan terhadap tekanan pasar global, spekulasi mata uang, dan kepentingan pemilik modal besar. Ketika krisis datang, rakyatlah yang paling merasakan dampaknya.
Islam menawarkan solusi yang berbeda dan menyeluruh.
Dalam sistem ekonomi Islam:
- Riba dihapuskan sehingga ekonomi tidak bergantung pada utang berbunga.
- Sumber daya alam strategis seperti tambang, minyak, gas, hutan, dan energi dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat.
- Mata uang didukung oleh aset riil sehingga tidak mudah menjadi objek spekulasi.
- Distribusi kekayaan diatur agar tidak beredar di kalangan orang kaya saja.
- Negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, keamanan, pendidikan, dan kesehatan.
Dengan penerapan sistem ekonomi Islam secara kaffah dalam naungan pemerintahan Islam, negara memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi rakyat dari gejolak pasar global.
Karena itu, jika hari ini kita menyaksikan rupiah terus tertekan, utang terus bertambah, dan kesejahteraan rakyat semakin jauh dari harapan, maka sudah saatnya mempertanyakan sistem yang diterapkan.
**Solusi tuntas krisis ekonomi bukan sekadar mengganti pejabat atau membuat paket stimulus baru, melainkan mengganti sistem yang rusak dengan sistem yang berasal dari Allah SWT. Sistem Ekonomi Islam terbukti memiliki mekanisme yang mampu menjaga stabilitas, keadilan distribusi, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, berbagai problem ekonomi yang terus berulang insyaAllah dapat diselesaikan dari akarnya.**
Afifah Demolisher

No comments:
Post a Comment