MBG, Peternak Merugi dan Broker Berpesta: Potret Kapitalisme yang Gagal Menyejahterakan Rakyat
Oleh: Afifah Demolisher
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi anak sekaligus penggerak ekonomi rakyat. Namun fakta di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Di tengah berbagai persoalan yang terus muncul dalam pelaksanaannya, mulai dari dugaan korupsi, keterlambatan dana operasional, hingga kasus keracunan massal, kini muncul fakta lain yang tak kalah memprihatinkan: peternak ayam rakyat justru tidak merasakan manfaat program tersebut.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), Mukhlis Wahyudi, menyebut bahwa pihak yang paling diuntungkan dari program MBG justru para broker atau middleman. Sementara peternak rakyat tetap terjepit oleh harga jual ayam yang anjlok jauh di bawah biaya produksi.
Kondisi ini memperlihatkan adanya masalah mendasar dalam tata kelola ekonomi. Program yang menggunakan dana negara dalam jumlah besar ternyata tidak otomatis memberikan manfaat kepada rakyat kecil sebagai pelaku produksi. Justru rantai distribusi yang panjang dan dominasi para perantara membuat keuntungan terkonsentrasi pada segelintir pihak.
Fenomena ini bukanlah hal baru dalam sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem ini, orientasi utama adalah efisiensi biaya dan keuntungan. Akibatnya, pengadaan barang dan jasa cenderung memilih pemasok yang mampu menyediakan harga termurah dalam skala besar. Peternak kecil yang memiliki keterbatasan modal dan akses pasar akhirnya tersingkir.
Lebih ironis lagi, saat stok ayam melimpah dan harga di tingkat peternak hanya berkisar Rp11.000 hingga Rp13.000 per kilogram, biaya produksi justru mencapai lebih dari Rp20.000 per kilogram. Artinya, setiap kilogram ayam yang dijual menghasilkan kerugian besar bagi peternak. Jika kondisi ini terus berlangsung, kebangkrutan massal hanya tinggal menunggu waktu.
Masalah ini menunjukkan bahwa negara saat ini lebih berperan sebagai regulator daripada pengurus langsung urusan rakyat. Negara seolah hanya membuat aturan, sementara mekanisme pasar dibiarkan menentukan nasib para pelaku usaha kecil. Akibatnya, ketika terjadi ketimpangan, rakyat kecil menjadi pihak yang paling menderita.
Islam memiliki paradigma yang berbeda. Dalam Islam, negara adalah ra'in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Negara tidak boleh membiarkan distribusi ekonomi dikuasai oleh segelintir pihak yang mengambil keuntungan dari kesulitan rakyat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sistem Islam, negara memiliki kewajiban memastikan distribusi hasil produksi berlangsung adil. Negara dapat memotong rantai distribusi yang merugikan rakyat dan mempertemukan langsung produsen dengan konsumen atau lembaga negara yang membutuhkan pasokan. Dengan demikian keuntungan tidak berhenti pada broker, tetapi kembali kepada para peternak sebagai pelaku produksi.
Selain itu, negara Islam memiliki sumber pemasukan yang kuat dari pengelolaan kepemilikan umum, seperti tambang, energi, hutan, dan sumber daya alam lainnya. Karena itu pembiayaan program pelayanan publik tidak bergantung pada utang maupun skema bisnis yang berorientasi keuntungan. Negara mampu menjalankan pelayanan rakyat secara optimal tanpa harus mengorbankan kesejahteraan produsen kecil.
Kasus peternak ayam yang merugi di tengah program MBG menjadi pelajaran penting bahwa persoalan rakyat tidak cukup diselesaikan dengan program populis. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma pengelolaan negara. Selama sistem kapitalisme tetap menjadi landasan, berbagai program berpotensi melahirkan persoalan baru dan membuka ruang keuntungan bagi para pemilik modal serta broker.
Sudah saatnya umat menyadari bahwa kesejahteraan yang hakiki hanya dapat diwujudkan melalui penerapan Islam secara kaffah. Sistem Islam tidak hanya menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat, tetapi juga memastikan distribusi kekayaan berlangsung adil sehingga kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk peternak rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan negeri.
Sumber Berita: https://regional.kompas.com/read/2026/06/09/184857378/program-mbg-tak-dongkrak-serapan-ayam-peternak-rakyat-broker-yang-untung
Tagar:
#IslamKaffah
#OpiniIslam
#MBG
#PeternakRakyat
#KeadilanEkonomiIslam
#SistemIslam
#KapitalismeGagal
#KhilafahSolusiUmat
#SejahteraDenganIslam
#EkonomiIslam
#LawanKetimpangan
#SuaraPeternak
#BeritaUmat
#IslamRahmatanLilAlamin
#MembenahiNegeriDenganIslam

No comments:
Post a Comment